Michael Bakunin: Sang Pemberontak yang Tak Pernah Takluk
Kalau ada satu tokoh yang bisa dibilang sebagai ikon anarkisme, itu pasti Michael Bakunin. Lahir pada 30 Mei 1814 di Rusia, Bakunin bukan cuma seorang filsuf, tapi juga seorang revolusioner sejati yang hidupnya penuh dengan pelarian, perlawanan, dan konflik dengan otoritas. Dia bukan tipe pemikir yang cuma duduk di meja dan menulis teori—Bakunin turun langsung ke medan perlawanan, ikut dalam revolusi, dan bahkan berkali-kali dijebloskan ke penjara.
Dari Anak Bangsawan ke Pemberontak
Bakunin berasal dari keluarga bangsawan Rusia, tapi sejak muda dia sudah muak dengan sistem yang mengekang kebebasan. Awalnya, dia belajar filsafat dan tertarik dengan gagasan Hegelianisme, tapi semakin lama, pemikirannya makin radikal. Dia mulai menolak gagasan negara dan otoritas, dan akhirnya menjadi salah satu pelopor anarkisme modern.
Tahun 1840, Bakunin pindah ke Jerman untuk mendalami filsafat. Di sana, dia mulai bergaul dengan para pemikir radikal dan semakin yakin bahwa negara adalah alat penindasan. Dia kemudian pindah ke Paris, tempat di mana dia bertemu dengan Karl Marx dan Pierre-Joseph Proudhon, dua tokoh besar dalam pemikiran sosialisme dan anarkisme.
Konflik dengan Karl Marx
Awalnya, Bakunin dan Marx punya tujuan yang sama: menghancurkan sistem kapitalisme dan menciptakan masyarakat yang lebih adil. Tapi, semakin lama, perbedaan ideologi mereka makin tajam. Marx percaya bahwa negara bisa digunakan sebagai alat untuk mencapai sosialisme, sementara Bakunin menolak gagasan itu mentah-mentah. Menurutnya, negara adalah sumber penindasan, dan satu-satunya cara untuk mencapai kebebasan adalah dengan menghancurkan sistem pemerintahan.
Konflik ini mencapai puncaknya dalam Internasional Pertama, organisasi buruh internasional yang didirikan pada tahun 1864. Bakunin dan Marx bersaing untuk mendapatkan pengaruh, dan akhirnya Bakunin dikeluarkan dari organisasi tersebut pada tahun 1872.
Pelarian dan Revolusi
Hidup Bakunin penuh dengan drama. Dia terlibat dalam berbagai revolusi di Eropa, termasuk pemberontakan di Prague (1848) dan Dresden (1849). Akibatnya, dia ditangkap, dijebloskan ke penjara, dan bahkan dijatuhi hukuman mati beberapa kali.
1849: Bakunin ikut serta dalam pemberontakan di Dresden. Setelah pemberontakan gagal, dia ditangkap dan dijatuhi hukuman mati.
1851: Hukuman mati Bakunin dikurangi menjadi penjara seumur hidup, lalu dia diekstradisi ke Austria.
1854: Bakunin dikirim ke Rusia dan dijebloskan ke penjara di Peter and Paul Fortress, tempat dia mengalami penyiksaan fisik dan mental.
1861: Setelah bertahun-tahun di penjara, Bakunin akhirnya diasingkan ke Siberia. Tapi, dia berhasil melarikan diri dengan naik kapal ke Jepang, lalu ke Amerika, sebelum akhirnya kembali ke Eropa.
Pemikiran Anarkisme
Bakunin percaya bahwa masyarakat harus diorganisir secara federatif, tanpa hierarki dan tanpa negara. Dia mengusulkan sistem di mana komunitas-komunitas kecil bisa mengatur diri mereka sendiri tanpa campur tangan pemerintah. Salah satu gagasan terkenalnya adalah bahwa "hasrat untuk menghancurkan juga merupakan hasrat yang kreatif", yang menunjukkan bahwa revolusi bukan sekadar meruntuhkan sistem lama, tapi juga membangun sesuatu yang baru.
Dia juga menolak konsep kepemimpinan elit, termasuk dalam gerakan revolusioner. Menurut Bakunin, revolusi harus dilakukan oleh rakyat secara langsung, bukan oleh segelintir pemimpin yang mengontrol gerakan.
Warisan Bakunin
Bakunin meninggal pada 1 Juli 1876, tapi pemikirannya tetap hidup. Dia menjadi inspirasi bagi banyak gerakan anarkis di seluruh dunia, dari kelompok punk hingga aktivis anti-kapitalisme. Meskipun banyak yang menganggap gagasannya terlalu ekstrem, tak bisa disangkal bahwa Bakunin adalah salah satu pemikir paling berpengaruh dalam sejarah perlawanan terhadap otoritas.
Jadi, kalau lo pernah merasa muak dengan sistem yang ada dan ingin melawan ketidakadilan, mungkin lo punya sedikit jiwa Bakunin dalam diri lo. 😆🔥

Komentar
Posting Komentar